#33 Tentang Galon dan Budaya Apresiasi

Jadi ceritanya, saya sekarang sudah bekerja.

Setelah berhasil lulus dari Universitas Indonesia dengan selamat sentausa, saya sekarang bekerja di sebuah perusahaan start-up digital yang bergerak di bidang pendidikan. 

Ada banyak hal menarik yang bisa saya ceritain tentang kantor saya yang sebenarnya hanya berupa sebuah ruko mungil dua lantai di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Tapi, sekarang saya cuma mau cerita tentang satu hal dulu.

Galon air mineral.

Bingung? Sabar. Jangan pindah laman dulu, saya ‘kan belum mulai cerita.

Jadi, di kantor saya ada sebuah dispenser kecil yang letaknya tepat di bawah tangga menuju lantai dua. Karena kami nggak punya seorang pegawai khusus yang jobdesc-nya mengurus perihal domestik kantor (bersih-bersih, nyapu, ngepel, bikin kopi—ya tau lah), kami pun terbiasa untuk mandiri. 

Masak, masak sendiri. Cuci piring sendiri. Galon air pun kami ganti sendiri.

Siap jadi mantu idaman Mama kalian semua lah kita-kita ini pokoknya. Hehe.

Nah, perihal galon. Saat ini di kantor saya kurang lebih ada 12 orang pegawai, dengan tingkat kehadiran rata-rata setiap harinya mencapai 8 – 10 orang (ya, anak-anak biz-dev dan marketing ‘kan sibuk menjemput bola). Jumlah yang mungkin tampak kecil ya, apalagi buat orang-orang yang bekerja di perusahaan besar yang kantornya ada di lantai sekian puluh gedung pencakar langit di daerah SCBD sana.

Tapi, nyatanya jumlah itu selalu berhasil menghabiskan minimal satu galon air mineral di dispenser—per hari. Seringkali kalau saya balik malem (hampir selalu) atau dateng kepagian (hampir selalu juga), saya menemukan galon air mineral tersebut dalam keadaan kosong.

Hmph.

Kalau sudah gini biasanya anak-anak sekantor langsung main tunjuk-tunjukan siapa yang akan jadi insan berjasa yang mau refill galon tersebut ke Alfamart deket kantor.

Biasanya sih yang kena adalah cowok-cowok IT penghuni lantai atas. Hehe.

Habis itu prosedur yang berlangsung adalah sama dengan orang-orang normal lain yang mengganti dispenser di rumah atau di… mana pun itu tempat yang ada dispensernya. Galon dibuka, dilap dengan tisu basah, lalu diangkat ke atas dispenser. Simpel. Nothing really special here. 

Sayangnya, di sini saya nggak lagi pengen meng-highlight tata cara angkat galon itu sendiri, melainkan sebuah kebiasaan yang baru-baru ini muncul di antara saya dan teman-teman kantor saya setiap seseorang selesai mengisi galon untuk dispenser tersebut.

Yup. We put a post-it of appreciation for everyone who put that gallon of water up there.

Awalnya iseng, karena graphic designer kita (iya yang namanya tertulis di foto itu) suatu hari berinisiatif jadi insan berjasa yang ngangkat galon. Terus tiba-tiba pas hari itu saya mau ambil minum, post-it berwarna kuning cerah tersebut udah tertempel dengan manis di sana.

*inside jokes alert* Ya, respect sih.

Hari berganti, galon pun ikut berganti. Dari yang awalnya cuma iseng, ternyata kegiatan menempel post-it apresiasi di galon menjadi sebuah hal yang rutin dilakukan. Nama-nama baru pun muncul dengan post-it yang berbeda warna. Meski begitu, intinya tetap sama: kami mengapresiasi siapapun yang mau menyisihkan waktunya untuk break sejenak mengerjakan tugas masing-masing untuk memastikan orang-orang lain nggak kehausan karena air habis.

Something that was originally started purely for fun, now has (hopefully) become a habit. A good one, even.

Maksud saya, di tengah masyarakat yang minim apresiasi begini, adalah hal yang bagus ‘kan untuk jadi pribadi yang apresiatif terhadap tindakan baik orang lain? Walaupun tindakan itu cuma se-simpel angkat galon ke dispenser.

Coba, kalau hal ini dibiasakan ke lebih banyak orang. Mungkin Demian nggak perlu menghadapi komen-komen bernada merendahkan yang ia dapatkan setelah sukses jadi pesulap Indonesia pertama yang tembus America’s Got Talent.

Apa susahnya sih mengakui bahwa seseorang telah melakukan sesuatu yang baik? I believe, a simple “Good job!” Or “You’re doing great, keep it up” will do so much.

Kalau belom apa-apa udah dikritik terus, ya jangan heran kalau banyak orang yang jadi males melakukan sesuatu yang bermakna.

Until we can start appreciating people for their hard work, maybe we shouldn’t even try to criticize them for not being good enough.

Advertisements

#32 Semangkuk Bakmi di Fakultas Sastra

Dari semua hal yang hanya bisa kalian temukan di Fakultas Sastra, semangkuk bakmi gerobak tanpa nama ini mungkin adalah yang paling spesial.

Nggak ada yang tahu pasti sejak kapan gerobak bakmi ini mangkal di sini, atau kenapa kehadirannya sangat dinanti-nanti setiap mahasiswa yang kebetulan masih berada di lingkungan kampus setelah adzan maghrib berkumandang. Konon, dulu bakmi ini dikenal dengan sebutan Bakmi Sengketa karena sebelum sang penjaja menasbihkan parkiran fakultas sastra sebagai tempat mangkalnya, ia biasa memarkirkan gerobak sederhananya ini di pinggir jalan yang membelah fakultas sastra dan FISIP. Maka itu, jika kamu bertanya pada anak FISIP tentang bakmi ini mereka akan menyebutnya Bakmi Sastra; sebaliknya, jika kamu bertanya pada anak Sastra, maka mereka akan menyebut bakmi ini sebagai Bakmi FISIP.

Persoalan sengketa ini pada akhirnya selesai saat suatu petang sang penjaja bakmi tiba-tiba mengubah lokasi mangkalnya jadi di dalam lapangan parkir fakultas sastra. Spekulasi yang umum beredar terkait hal ini adalah, beliau diperingatkan oleh pihak kampus untuk tidak lagi berjualan di pinggir jalan karena disinyalir mengganggu pemandangan dan lalu lintas sekitar. Sebagai gantinya, mereka memperbolehkannya tetap berjualan di dalam area parkir Fakultas Sastra—mungkin karena banyak staff dan dosen yang juga merupakan penggemar bakmi legendaris ini dan tidak rela kehilangan hidangan makan malam favorit mereka dikala lembur menghadang.

“Mas, bakminya dua ya. Dua-duanya pakai pangsit” ujarku kepada si abang bakmi yang tengah sibuk memasukkan gulungan-gulungan mie siap masak ke dalam panci berisi air mendidih.

“Makan sini bawa pulang, Mbak’e?”

“Makan sini, Mas. Saya duduk situ ya” aku menunjuk bebatuan berundak yang terletak tidak jauh dari gerobak bakmi itu berada.

“Siap, Mbak’e

Petang ini langit tampak kemerahan. Aku pernah diberitahu seseorang bahwa semburat kemerahan itu menandakan bahwa langit sedang mendung. Belakangan ini cuaca memang nggak begitu bersahabat—seringkali mendung, namun jarang sekali hujan. Meski begitu, panas tetap saja membara saat matahari tengah tinggi-tingginya.

Sementara aku membuat diriku nyaman di atas bebatuan berundak, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas berniat menghubungi seseorang yang sudah berjanji akan menemaniku menikmati semangkuk Bakmi Sastra senja ini. Sebenarnya orang itu sudah berjanji sejak beberapa minggu yang lalu, namun selalu saja ada hal yang membuatnya belum bisa menepati janji tersebut—entah itu karena kelas tambahan, rapat, pertemuan dengan sesama pejabat kampus… macam-macam pokoknya alasannya. Ya, aku memaklumi sih, mengingat jabatannya sebagai wakil ketua BEM memang mengharuskan dia hadir di berbagai acara kemahasiswaan, sembari tetap menyeimbangkan karir akademisnya. Ini tentu membuat agenda makan bakmi di parkiran fakultas bersamaku masuk urutan ke-sekian di dalam to-do list hariannya.

Jam di ponselku menunjukkan angka 18.45. Nggak ada pesan terbaru darinya. Pesan terakhir masih tertanggal kemarin malam saat ia meminta maaf karena (lagi-lagi) ia mengingkari janjinya menemaniku ke perpus mencari bahan untuk tugas makalahku. Aku sudah memaafkannya, karena aku paham benar ada hal lain yang lebih penting yang harus ia lakukan hari itu daripada sekedar menemaniku ke perpustakaan.

“Besok aku bakal traktir kamu Bakmi Sastra sebagai bentuk permintaan maaf. Ya?”

“Kalau emang sibuk nggak usah, Kak. Aku udah maafin Kakak, kok”

“Justru itu yang bikin aku makin merasa bersalah, Ta. Aku udah keseringan ingkar janji sama kamu, dan aku pingin nebus dosa itu besok”

“Nebus dosa pakai bakmi?”

“Anggap aja itu pemanasan. Sisanya nanti aku cicil satu per satu”

Nebus dosa dicicil, memang cuma Ilham Januardi yang bisa. Dan aku bisa-bisanya juga mengiyakan.

Kak Janu, aku udah di parkiran sastra ya.

Satu pesan singkat aku kirimkan kepadanya, tepat sebelum salah seorang asisten si abang bakmi datang dengan 2 mangkuk bakmi ayam yang masih mengebul panas.

“Makasih, Mas. Bentar ya” senyumku sembari bergerak merogoh-rogoh tas demi mengambil dompet untuk membayar dua bakmi tersebut.

Rupanya benda kecil nan penting itu agak terselip diantara buku catatan, diktat, dan fotokopian bahan kuliah yang berdesakkan memenuhi ranselku hari ini. Butuh waktu agak lama hingga aku berhasil menemukannya dan mengevakuasi sang dompet dari tindihan benda-benda lain di dalam tasku. Dan ketika aku hendak menyerahkan selembar 20 ribuan kepada si abang bakmi yang telah menunggu dengan sabar, sebuah tangan lelaki malah mendahuluiku melakukannya.

“Ambil aja kembaliannya ya, Mas” ujar sebuah suara familiar di sisiku.

Aku mengerjap. Kak Janu betulan menepati janjinya rupanya.

“Udah lama?” tanyanya sembari duduk di sebelahku dengan semangkuk bakmi di tangannya.

Aku menggeleng. “Baru kok. Belum lama. Kak Janu abis rapat?”

Ia tersenyum. Kedua matanya terlengkung menjadi sepasang bulan sabit. “Tau aja. Ketebak banget ya?”

Aku tertawa kecil dan mengangguk. “Banget”

Kami menyantap bakmi tersebut berdua di bawah langit petang yang sudah berubah gelap dan mendung. Sesekali bercerita tentang apa saja yang melintas di kepala—kebanyakan Kak Janu yang melakukannya sementara aku siap sedia menjadi pendengar setia. Seringkali gelak tawa menyusup diantara kami, kunyahan-kunyahan bakmi, dan cerita mengenai kegiatan kampusku serta kegiatan organisasinya.

“Ta, mendung nih kayaknya” ia berujar, kepalanya menengadah menantang sinar bulan yang bersembunyi di balik gumpalan awan gelap.

“Iya tau kok. Langitnya udah merah daritadi” jawabku.

Kak Janu menoleh. “Kok tau kalau langitnya merah tandanya mendung?”

“Kan Kakak yang kasih tau aku,” kuletakkan mangkuk bakmi kosong di atas aspal yang melapisi seluruh area parkiran Sastra, kemudian tersenyum tipis. “Mau balik?”

“Sebentar” Kak Janu meletakkan mangkuk kosongnya di sebelah mangkukku kemudian pergi, setengah berlari menuju penjaja minuman dingin dekat pos satpam parkiran. Nggak butuh waktu lama, ia pun kembali dengan 2 botol minuman teh kemasan yang menjadi favorit kami berdua.

“Nih, seret ‘kan pasti abis makan nggak minum?”

Aku menatap tangannya yang terulur ke arahku selama beberapa detik sebelum menerima botol minuman kemasan tersebut darinya.

“Itu kenapa, Kak?”

Kak Janu yang tengah menenggak isi botol miliknya menoleh ke arahku dengan alis terangkat. “Hm? Apanya yang kenapa?”

Kutatap kedua matanya dalam diam. Kak Janu membalasnya dengan pandangan penuh tanya. Aku menghela nafas kemudian meraih salahsatu tangannya dan membaliknya hingga telapaknya kini menghadap ke atas. Bekas-bekas luka goresan pun terpampang di hadapanku, tersebar merata di sekitar pergelangan tangannya—dekat dengan urat nadinya.

“Itu,” ujarku. “Kenapa?”

Bukannya menjawab, Kak Janu malah menarik tangannya dari genggamanku dengan cepat. “Oh itu. Dicakar kucing, biasa” kemudian ia tersenyum. Matanya kembali terlengkung menjadi sepasang bulan sabit.

“Dicakar kucing?”

Ia mengangguk acuh kemudian menyampirkan ransel abu-abu lusuhnya di bahu. “Udah yuk, balik. Keburu ujan lho nanti”

Aku terdiam sesaat menatap punggung Kak Janu yang perlahan bergerak menjauh. Entah apa yang membuatku berhenti bertanya lebih jauh mengenai goresan di tangannya; mungkin sikap acuhnya ketika menjawab pertanyaanku, mungkin juga senyumnya yang seolah berusaha meyakinkanku bahwa luka-luka itu memang hasil ulah bandel kucing-kucing peliharaannya, atau mungkin sebersit sinar aneh yang dipancarkan kedua matanya sesaat sebelum manik tersebut terlengkung menjadi sepasang bulan sabit.

Atau mungkin, mungkin aku yang sudah malas mengulik lebih jauh akibat kekenyangan makan bakmi.

“Okta, mau balik nggak?” Kak Janu menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.

Sebuah senyum tipis terukir di bibirku. Aku mengangguk cepat kemudian bergegas menyusulnya. Saat aku berhasil menjajari langkahnya, aku pun menggamit lengannya dan memeluknya erat. Kak Janu nampaknya terkejut dengan aksi spontan tersebut, namun ia nggak membiarkan itu berlangsung lama. Layaknya sebuah hal yang wajar, ia meresponnya dengan mengusap lembut kepalaku kemudian tergelak ringan.

“Cicilan pertama lunas ya, Ta. Minggu depan aku bayar yang kedua”

“Pakai apa?”

“Terserah, kamu maunya pakai apa?”

“Hm… traktir aku bakmi lagi?”

“Lagi?”

“Iya.”

“O-okay…”

“Janji?”

“Janji.”

 

#31 Letters to No One

Dear No One,

Can I call you No One? It’s kinda bizarre I know, but since I don’t even know your face or how you looked like in general, you’re practically a mere idea inside my head. You’re not anyone in particular, thus you’re No One.

How are you, No One? I hope everything’s fine with you wherever you are, whatever you’re doing.

Everything’s fine with me, just in case you’re wondering. I just finished my thesis, thankfully, on time and currently enjoying every second on my sweet, sweet procrastination. I got nothing coming up except maybe the responsibility to make money on my own. Yes, I have to get a job, eventually.

But it’s nothing to worry about, I’ll get that under control. Hopefully.

You know, writing this to you seems a little funny because I feel like I’m writing to myself. Or maybe I am? Am I using you as an excuse to have a conversation with myself without the fear of being labeled as ‘insane’?

Wait, how do we even know we’re sane at the first place?

I don’t know. Maybe you can tell me the answer for that question?

Write me back, I wanna hear from you.

Sincerely yours,

Anyone

***

Dear No One,

Here I am again, knitting letters and words aimed for you though I never know if I’ll ever get a reply or not. You’re so mysterious; I can’t help but keep writing to you. So… I guess, that’s why I’m here again.

It’s 3.41 am where I am. I can’t sleep. No, I’m not an insomniac, it’s just another day with sleeping difficulty because of too much movie and internet before bed. I have just finished one later this night, in fact. A movie, I mean.

The movie… ah, the movie. The movie is great! Let me tell you, it’s so good I cried at some parts. Well, it’s not actually a surprise though, I am such a crybaby sometimes. But seriously, it was great. Do you want to watch it? I’ll send you the link if you want to.

Anyway, I think what makes me adore that movie so much is how it captures stories in a city that is as fast-paced and as ruthless as this capital. I always loved this capital, don’t you know? Nth-hundred thousand humans inside, this city is not only filled with cars and motorbikes and air pollution but also, stories. Stories are scattered everywhere in this city; inside the hollow homes of the elites, all over the street and small alleys, in the building of the so-called parliament, on every seat of taxis, buses, Ubers and Grabs and Gojeks, inside the tents of street seafood stall, in every bakmi bowls… everywhere. It crowds the city. Buzzing through its every nooks and crannies. Making it alive.

And that is exactly why I love this city and every bit of its captivating complexity.

What about you, No One? What city do you love the most? Please do tell me the next time you decided to reply this letter, okay?

Curiously yours,

Anyone

***

Dear No One,

It’s finally raining today!

It hasn’t rained since the last two weeks and the weather are starting to irritate me. I hate heat. I don’t like summer. I love rain, as cliché as it might sound.

Don’t you think rain is beautiful? It’s like, Mother Nature decided to give Earth a bath so that he can clean whatever dust and dirt he was covered with for a long time. I like how it feels after the rain. Cold and chilly, perfect for a bowl of indomie. We all love that legendary noodles aren’t we?

What do you like to do when it rains? I, myself, like to curled up under my blanket with my Air Conditioner on, read a book, watch movie, or just… existing. Not doing anything. Thinking. Contemplating. Sleeping.

(Sleep always comes best when it rains. Agree?)

Anyway, I’m sorry I can’t write much. I’ve been busy with… stuff. I’m still waiting for you to write me back, though. Don’t you ever think I forgot.

Sincerely yours,

Anyone.

***

Dear No One,

Is it wrong to wait?

You know, because I keep waiting for your reply even though I know it’s close to impossible; I’m writing to No One—a reply shouldn’t be something to be expected. Right?

I know, I know. Expectation is a cruel bastard. It is.

Now I feel stupid to wait for something I know would never happen.

But is it wrong to wait?

Sincerely (still) yours,

Anyone

***

Dear No One,

I miss you, it’s scary.

I shouldn’t miss someone I have absolutely zero knowledge about.

 

#29 Possibilities, Probabilities

Maybe we’re nothing

Maybe we’re something

.

Maybe it’s real

Probably it’s not

.

It could be infatuation

Or merely an excitement

.

Maybe it’ll heal

Most likely it’ll rot

.

There’s an endless possibility of us getting together,

But there’s more, of us going back without each other

.

Maybe then I can finally make sense of all those poems and sad songs,

Or maybe I just won’t,

.

Either way I will still write my own

And that’s the only thing I can surely count on

—F.S

#28 A Girl Like Thunderstorm




At first glance you’ll notice her eyes

They’re dark and taunting

So dark you could feel your life was sucked into them

Helplessly

Voluntarily

 

Eyes like a sky before storm

 

Then you’ll notice her smile

It’s bright and electrifying

It will shock the hell out of your system,

Leaving you fazed

Making you whimper

 

Smile like a jolt of thunder

 

Then you’ll start to see her

The way she moves

The way she glances

The way she smiles

 

She was everything but mild

She was nothing but wild

 

No hurricane will stop her,

For she was born to dance under

 

She,

is a girl like thunderstorm

—F.S

For my dearest babe, Soraya

I wish you all the grand things for this year ahead

Happiest birthday to you

#27 That’s What It Is

c2ygkaguoaacvum

It’s the way he’s holding on to her when they kissed, like he’s holding his most precious possession in life;

And that’s what she is

 

It’s the way she’s holding on to him when they kissed, like she’s holding on for her dear life;

Cause that’s what he is

—F.S.

Cling