#32 Semangkuk Bakmi di Fakultas Sastra

Dari semua hal yang hanya bisa kalian temukan di Fakultas Sastra, semangkuk bakmi gerobak tanpa nama ini mungkin adalah yang paling spesial.

Nggak ada yang tahu pasti sejak kapan gerobak bakmi ini mangkal di sini, atau kenapa kehadirannya sangat dinanti-nanti setiap mahasiswa yang kebetulan masih berada di lingkungan kampus setelah adzan maghrib berkumandang. Konon, dulu bakmi ini dikenal dengan sebutan Bakmi Sengketa karena sebelum sang penjaja menasbihkan parkiran fakultas sastra sebagai tempat mangkalnya, ia biasa memarkirkan gerobak sederhananya ini di pinggir jalan yang membelah fakultas sastra dan FISIP. Maka itu, jika kamu bertanya pada anak FISIP tentang bakmi ini mereka akan menyebutnya Bakmi Sastra; sebaliknya, jika kamu bertanya pada anak Sastra, maka mereka akan menyebut bakmi ini sebagai Bakmi FISIP.

Persoalan sengketa ini pada akhirnya selesai saat suatu petang sang penjaja bakmi tiba-tiba mengubah lokasi mangkalnya jadi di dalam lapangan parkir fakultas sastra. Spekulasi yang umum beredar terkait hal ini adalah, beliau diperingatkan oleh pihak kampus untuk tidak lagi berjualan di pinggir jalan karena disinyalir mengganggu pemandangan dan lalu lintas sekitar. Sebagai gantinya, mereka memperbolehkannya tetap berjualan di dalam area parkir Fakultas Sastra—mungkin karena banyak staff dan dosen yang juga merupakan penggemar bakmi legendaris ini dan tidak rela kehilangan hidangan makan malam favorit mereka dikala lembur menghadang.

“Mas, bakminya dua ya. Dua-duanya pakai pangsit” ujarku kepada si abang bakmi yang tengah sibuk memasukkan gulungan-gulungan mie siap masak ke dalam panci berisi air mendidih.

“Makan sini bawa pulang, Mbak’e?”

“Makan sini, Mas. Saya duduk situ ya” aku menunjuk bebatuan berundak yang terletak tidak jauh dari gerobak bakmi itu berada.

“Siap, Mbak’e

Petang ini langit tampak kemerahan. Aku pernah diberitahu seseorang bahwa semburat kemerahan itu menandakan bahwa langit sedang mendung. Belakangan ini cuaca memang nggak begitu bersahabat—seringkali mendung, namun jarang sekali hujan. Meski begitu, panas tetap saja membara saat matahari tengah tinggi-tingginya.

Sementara aku membuat diriku nyaman di atas bebatuan berundak, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas berniat menghubungi seseorang yang sudah berjanji akan menemaniku menikmati semangkuk Bakmi Sastra senja ini. Sebenarnya orang itu sudah berjanji sejak beberapa minggu yang lalu, namun selalu saja ada hal yang membuatnya belum bisa menepati janji tersebut—entah itu karena kelas tambahan, rapat, pertemuan dengan sesama pejabat kampus… macam-macam pokoknya alasannya. Ya, aku memaklumi sih, mengingat jabatannya sebagai wakil ketua BEM memang mengharuskan dia hadir di berbagai acara kemahasiswaan, sembari tetap menyeimbangkan karir akademisnya. Ini tentu membuat agenda makan bakmi di parkiran fakultas bersamaku masuk urutan ke-sekian di dalam to-do list hariannya.

Jam di ponselku menunjukkan angka 18.45. Nggak ada pesan terbaru darinya. Pesan terakhir masih tertanggal kemarin malam saat ia meminta maaf karena (lagi-lagi) ia mengingkari janjinya menemaniku ke perpus mencari bahan untuk tugas makalahku. Aku sudah memaafkannya, karena aku paham benar ada hal lain yang lebih penting yang harus ia lakukan hari itu daripada sekedar menemaniku ke perpustakaan.

“Besok aku bakal traktir kamu Bakmi Sastra sebagai bentuk permintaan maaf. Ya?”

“Kalau emang sibuk nggak usah, Kak. Aku udah maafin Kakak, kok”

“Justru itu yang bikin aku makin merasa bersalah, Ta. Aku udah keseringan ingkar janji sama kamu, dan aku pingin nebus dosa itu besok”

“Nebus dosa pakai bakmi?”

“Anggap aja itu pemanasan. Sisanya nanti aku cicil satu per satu”

Nebus dosa dicicil, memang cuma Ilham Januardi yang bisa. Dan aku bisa-bisanya juga mengiyakan.

Kak Janu, aku udah di parkiran sastra ya.

Satu pesan singkat aku kirimkan kepadanya, tepat sebelum salah seorang asisten si abang bakmi datang dengan 2 mangkuk bakmi ayam yang masih mengebul panas.

“Makasih, Mas. Bentar ya” senyumku sembari bergerak merogoh-rogoh tas demi mengambil dompet untuk membayar dua bakmi tersebut.

Rupanya benda kecil nan penting itu agak terselip diantara buku catatan, diktat, dan fotokopian bahan kuliah yang berdesakkan memenuhi ranselku hari ini. Butuh waktu agak lama hingga aku berhasil menemukannya dan mengevakuasi sang dompet dari tindihan benda-benda lain di dalam tasku. Dan ketika aku hendak menyerahkan selembar 20 ribuan kepada si abang bakmi yang telah menunggu dengan sabar, sebuah tangan lelaki malah mendahuluiku melakukannya.

“Ambil aja kembaliannya ya, Mas” ujar sebuah suara familiar di sisiku.

Aku mengerjap. Kak Janu betulan menepati janjinya rupanya.

“Udah lama?” tanyanya sembari duduk di sebelahku dengan semangkuk bakmi di tangannya.

Aku menggeleng. “Baru kok. Belum lama. Kak Janu abis rapat?”

Ia tersenyum. Kedua matanya terlengkung menjadi sepasang bulan sabit. “Tau aja. Ketebak banget ya?”

Aku tertawa kecil dan mengangguk. “Banget”

Kami menyantap bakmi tersebut berdua di bawah langit petang yang sudah berubah gelap dan mendung. Sesekali bercerita tentang apa saja yang melintas di kepala—kebanyakan Kak Janu yang melakukannya sementara aku siap sedia menjadi pendengar setia. Seringkali gelak tawa menyusup diantara kami, kunyahan-kunyahan bakmi, dan cerita mengenai kegiatan kampusku serta kegiatan organisasinya.

“Ta, mendung nih kayaknya” ia berujar, kepalanya menengadah menantang sinar bulan yang bersembunyi di balik gumpalan awan gelap.

“Iya tau kok. Langitnya udah merah daritadi” jawabku.

Kak Janu menoleh. “Kok tau kalau langitnya merah tandanya mendung?”

“Kan Kakak yang kasih tau aku,” kuletakkan mangkuk bakmi kosong di atas aspal yang melapisi seluruh area parkiran Sastra, kemudian tersenyum tipis. “Mau balik?”

“Sebentar” Kak Janu meletakkan mangkuk kosongnya di sebelah mangkukku kemudian pergi, setengah berlari menuju penjaja minuman dingin dekat pos satpam parkiran. Nggak butuh waktu lama, ia pun kembali dengan 2 botol minuman teh kemasan yang menjadi favorit kami berdua.

“Nih, seret ‘kan pasti abis makan nggak minum?”

Aku menatap tangannya yang terulur ke arahku selama beberapa detik sebelum menerima botol minuman kemasan tersebut darinya.

“Itu kenapa, Kak?”

Kak Janu yang tengah menenggak isi botol miliknya menoleh ke arahku dengan alis terangkat. “Hm? Apanya yang kenapa?”

Kutatap kedua matanya dalam diam. Kak Janu membalasnya dengan pandangan penuh tanya. Aku menghela nafas kemudian meraih salahsatu tangannya dan membaliknya hingga telapaknya kini menghadap ke atas. Bekas-bekas luka goresan pun terpampang di hadapanku, tersebar merata di sekitar pergelangan tangannya—dekat dengan urat nadinya.

“Itu,” ujarku. “Kenapa?”

Bukannya menjawab, Kak Janu malah menarik tangannya dari genggamanku dengan cepat. “Oh itu. Dicakar kucing, biasa” kemudian ia tersenyum. Matanya kembali terlengkung menjadi sepasang bulan sabit.

“Dicakar kucing?”

Ia mengangguk acuh kemudian menyampirkan ransel abu-abu lusuhnya di bahu. “Udah yuk, balik. Keburu ujan lho nanti”

Aku terdiam sesaat menatap punggung Kak Janu yang perlahan bergerak menjauh. Entah apa yang membuatku berhenti bertanya lebih jauh mengenai goresan di tangannya; mungkin sikap acuhnya ketika menjawab pertanyaanku, mungkin juga senyumnya yang seolah berusaha meyakinkanku bahwa luka-luka itu memang hasil ulah bandel kucing-kucing peliharaannya, atau mungkin sebersit sinar aneh yang dipancarkan kedua matanya sesaat sebelum manik tersebut terlengkung menjadi sepasang bulan sabit.

Atau mungkin, mungkin aku yang sudah malas mengulik lebih jauh akibat kekenyangan makan bakmi.

“Okta, mau balik nggak?” Kak Janu menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.

Sebuah senyum tipis terukir di bibirku. Aku mengangguk cepat kemudian bergegas menyusulnya. Saat aku berhasil menjajari langkahnya, aku pun menggamit lengannya dan memeluknya erat. Kak Janu nampaknya terkejut dengan aksi spontan tersebut, namun ia nggak membiarkan itu berlangsung lama. Layaknya sebuah hal yang wajar, ia meresponnya dengan mengusap lembut kepalaku kemudian tergelak ringan.

“Cicilan pertama lunas ya, Ta. Minggu depan aku bayar yang kedua”

“Pakai apa?”

“Terserah, kamu maunya pakai apa?”

“Hm… traktir aku bakmi lagi?”

“Lagi?”

“Iya.”

“O-okay…”

“Janji?”

“Janji.”

 

#4 Let’s Not Fall in Love

IMG_20150627_183015

“Let’s not fall in love,” he said.

His eyes, two irises as black as a coal, looking out to the distance. He seems so far away even though the space between us was only an arm reach, even less. It’s as if his soul is nestling somewhere else, as if he was somewhere else (so far away, I can’t even reach), as if… he wants to be anywhere else but here.

Wasn’t he always?

“We don’t know each other very well yet,” His voice was raspy. Like the sound you make when you step on a stack of dry leaves during autumn.

We don’t know each other very well, yet. Sure, I thought. I only know about how much sugar you like on your coffee (3 spoons, or was it 4?), how much you love reading your old comic books on weekend, how you always woke up at 5 and then continue to sleep until 6.30 before officially starting your day, how much you hated to shave, and how you would hug me so tightly (so long) when you’re sad.

“Actually I…” he took a long draw of oxygen into his lungs before continuing his words. “…was scared”

Aren’t we all?

He turns his head towards me. Even now, when he’s looking straight into my eyes, (or maybe he was just trying to) his eyes were always seemed so distant. It’s as if he’s not looking at me but something far beyond me.

It seems like you’re here, but not. Why?

“Let’s not make promises. We never know what tomorrow may bring,” he said. “Please, don’t ask anything to me. I can’t… ever give you an answer“

But, darling, you are the answer to all my unasked questions.

“We’re as happy as we are right now”

Unconsciously, my lips curved into a small smile. Are we?

He turns his head away, again. He’s ready to soar through the horizon, again. Ready to drift away from me, even further than he was before. Ready to not fall in love.

Then came a whisper from the gap between his lips. A whisper so soft, it almost feels like a morning breeze.

“Let’s not fall in love”

The wind flows, caressing my cheek ever so gently. I closed my eyes and imagine the place he was always looking for in the distance. I imagine myself there. I imagine us.

Then came another whisper. This time, it was from mine.

“Let’s”

THE END

Now Listening: Bigbang – Let’s Not Fall in Love

#3 Reunion

IMG_20150704_143024

There we are again. Sitting face to face surrounded by the crowd of cheers. Looking close but also at the same time, distant. You flashed me a little smile. That smile. I want to refrain myself from smiling back but my body doesn’t seem to have the same idea. So without me even have the time to think, I smiled back.

Laughter was heard. Stories were exchanged. Nostalgia.

Our old friend cracked a joke; a funny one that made everyone in the table laughs their hearts out. I haven’t heard their laugh for quite a while. Their laughs, for some reason throws me to the long deep tunnel of time when life was as simple as ABCs. When nothing is more complicated than the algebra formulas our teacher used to teach us in the class. When we thought, we could handle everything in our hands as long as we’re standing side by side. Nothing will keep us apart.

Turns out life are not that simple, right? Things are more complicated than any math formulas we used to learn together back at school. We can’t handle everything in our hands, because the world is far bigger and more complicated that we thought. Even when we’re standing side by side, there’s still some invisible distance keeping us apart.

I caught your eyes glancing at my direction for a split second before that was broken when you turn your head because one of our friends called your name. It’s okay though, that split second is enough for both of us to finally realize something that has been buried deep beneath this thick layer of ego. That invisible barrier.

You never change, you said when the night ends.

So do you.

Four years and not the slightest change of you, and then you laugh.

Four years…

Four years worth of time for me to finally realize, I’m not over you.

Me too…

And then a hug. An awkward friend-to-friend hug. Arm slung awkwardly around the shoulder. Nose buried weirdly on the nape of the necks. Fingers ran hesitantly through the strands of hair. Heart raced rapidly against the cage of ribs. Unspoken words held by the tip of our tongues.

On that very moment we finally realized; something deep down in our hearts never change. Not even a slightest bit. It’s just us who refuse to acknowledge it.

THE END