#23 Tentang Cinta

unnamed

I once read a saying: “Love is not the one you text at 3 in the morning when you’re alone and you miss them, but it’s the one you call at 2 in the afternoon when you’re busy; because they constantly show up on your mind”. Gak persis begitu lah, but it’s the same thing along the way. At first, reaksi saya atas kata-kata tersebut adalah “Yeah yeah whatever” kemudian kembali men-scroll timeline twitter dimana saya menemukan kata-kata tersebut. Tapi semakin kesini, saya semakin menemukan bahwa kata-kata diatas ada benarnya juga. Here’s why:

Selama 4 bulan terakhir ini saya menjalani hari-hari sebagai seorang intern di sebuah perusahaan konstruksi terkemuka di Indonesia (I just quoted the company’s tagline itself, yeah you caught me). Disitu saya berada di departemen SDM, atau yang lebih dikenal orang-orang dengan sebutan HRD—ingat sitkom tentang kisah office boy dan tim HRD yang dulu pernah tayang di salahsatu TV swasta nasional kita kan? Nah itu, hanya saja ini HRD beneran bukan HRD yang kerjaannya tampak sangat srimulat di sitkom tersebut.

Ruangan tempat departemen SDM berada ini jadi satu dengan beberapa departemen lainnya, yaitu departemen Pemasaran, Investasi, Sistem dan Resiko, serta QHSE atau K3. Seperti kantor pada umumnya, sebaran umur pegawai disitu rata-rata diatas 30 tahun dengan sex ratio yang lebih berat kearah laki-laki. Saya mulai kedengaran kayak halaman pendahuluan di skripsi ya? Hahaha.

Ya oke, jadi sebenarnya saya mau cerita bagaimana para pegawai di ruangan tempat saya magang ini kebanyakan sudah menikah dan berkeluarga. Ini tentu bukan hal yang mengejutkan karena secara umur mereka memang sudah pantas untuk itu. Yang membuat ini menarik adalah bagaimana, di tempat yang tampak paling biasa sekalipun, saya tetap bisa menemukan bukti bahwa cinta itu ada

Rihanna said “We found love in a hopeless place”, well I said no Ri, we found love in every place even in those ones you often overlooked. Contohnya? Kantor ini.

Orang mungkin akan mengira, “Wah di kantornya ada yang cinlok ya?” hmm… not necessarily. Mungkin kasus itu ada tapi saya gak asesmen lebih lanjut, yang saya tertarik adalah bagaimana para pegawai di kantor saya menunjukkan kepada saya (not explicitly of course) bahwa cinta itu selalu ada dan sebenarnya merupakan hal yang sederhana.

Love is not always about grand gestures—chocolates, big buckets of flowers, love letters… no. Love is actually the simplest things around.

Seperti seorang ibu yang rutin setiap siang menelpon ke rumah menanyakan “Adek udah pulang sekolah? Sudah makan? Yaudah, nanti PR-nya dikerjain ya? Habis itu kamu bobo. Iya nanti mama gak pulang malem kok”

Seperti saat seorang suami memamerkan bekal yang disiapkan istrinya tadi pagi kepada rekan-rekan kerjanya dan mengatakan bahwa bekal itu adalah hal yang paling ia rindukan ketika ia harus dinas keluar kota.

Seperti seorang teman yang mengomeli teman lainnya, “Lo tuh ya, rapihan dikit kek kalo pake baju. Diomelin kan sama bos lo, besok sabtu gue temenin cari kemeja deh. Nggak pake tapi tapi”

Seperti raut khawatir seorang staff ketika rekan kerjanya datang ke kantor dengan mata sembap dan wajah sendu (“Mbak, kamu tuh kalo kenapa-kenapa cerita ya sama aku? Biasanya kamu ceria gini lho kok tiba-tiba hari ini dateng wajahnya sendu banget”)

Seperti seorang manager yang baru saja menjadi kakek saat mendapat telfon dari cucunya dan dengan bangganya memamerkan kepada segenap rekan kerja kalau cucunya ini sudah bisa membaca doa makan dan doa tidur.

Dan seperti juga seorang anak magang yang terlihat senyum-senyum sendiri di pojok mushalla dengan ponsel menempel erat di telinga; melepas rindu dengan seseorang yang berada di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari tempatnya berada.

Cinta itu gak ribet kok, kalau menurut saya. If anything, cinta itu sederhana. Se-sederhana seorang ayah yang membuka-buka gallery foto di ponselnya saat ia tengah penat dengan pekerjaan hanya untuk melihat senyum anaknya yang baru berumur 3 tahun, se-sederhana seorang ibu yang terpaksa izin pulang setelah makan siang karena anaknya jatuh sakit setelah mengikuti persami di sekolahnya, se-sederhana bekal yang dimakan dengan lahap oleh seorang suami karena ia rindu akan masakan istrinya setelah seminggu penuh dinas keluar kota, se-sederhana rekan kerja yang menyediakan bahunya sebagai tempat rekannya menangis dan mencurahkan isi hatinya after office hours, se-sederhana senyum bangga seorang kakek saat cucunya berhasil melafalkan doa makan dan doa tidur dengan lancar…

Se-sederhana little gestures lainnya yang seringkali dianggap tidak penting oleh orang lain.

So if you ask me, what kind of love do I aspire to fall in?

It’s this kind of love.

#22 Our Week

Mondays are for hurried goodbyes and I miss you’s text at 2pm

Tuesdays are for helping you with your tie and sudden calls at 9 cause you just feel like it

Wednesdays are for an impulsive movie date after office hours and large-sized caramel popcorn that I love

Thursdays are for midnight junk food takeaway and messy breakfast

Fridays are for picking me up and dinner at our favorite street-food stall

Saturdays are for bookstore date and coffee shop

And Sundays, Sundays are for barefoot morning in the kitchen and feeling okay with you

 

—How our week should’ve went

#5 Don’t Talk to Strangers on The Internet

Your mother used to tell you that you shouldn’t talk to strangers on the internet for he might be a 40 year old bald man who intended to kidnap you and tie you on a chair inside his dark cramped basement somewhere only God knows. For she might be a lesbian pedophile whose only purpose is drive her way into your body and stain you with her sin. For they might be a predator that would (and could) eat you up alive.

But, does your mother ever told you about this one? The one whose words feel more calming than the smell of rain on a lazy Sunday morning. The one whose words taste like ice cream on a hot summer days. The one whose words would echoes inside your head like a broken record playing on repeat (you’d remember every single damn of letters and punctuation they used on it, oh boy, you would). The one whose words you knew would slice your heart open when they leave but you also knew that you wouldn’t mind the bleeding and the numbing pain you’d feel.

I love you.

It’ll feel real, fuck it’ll feel so damn real. It’s as if you could clearly hear their voice whispering those words on your ear with their sleepy voice every morning. It’s as if they’re here, lying on the vacant side of your bed, arms wrapped around your waist, face nestled on the crook of your neck, and lips slightly brushed on your skin making your heart beats 10 times faster than its usual tempo. It’s as if you could feel their skin just right on your fingertips.

It’s as if they’re here.

Except they’re not. I love you.  No, the words doesn’t roll down their tongue coated in their sleepy voice greeting you the same way the sun greets the earth every morning. Instead it came on a form of digitally transmitted electromagnetic signal that is a plain Arial on your dimly lit phone screen. They’re not here. They won’t ever be here.

I love you too, but I wish I don’t.

Your mother used to tell you that you shouldn’t talk to strangers on the internet for they might be dangerous in every logical reason there is. But what she didn’t tell you is that they could make you fall deep in love with them in every illogical reason there is. And that, my dear, is far more dangerous than those things she used to tell you.